Kamis, 23 September 2010

Wahai Pemimpin !!! Bawa keluar negeri ini dari keterpurukan

Anggota IRMAP
Kon Fu Tse Seorang Filosuf china kuno yang hidup 1000 tahun sebelum masehi di tanya oleh murid-muridnya tentang tata cara membangun kejayaan suatu bangsa, ia menjawab bahwa ada  tiga Syarat yang harus di penuhi yaitu : tentara yang kuat , tercukupinya kebutuhan rakyat akan sandang, pangan, papan serta keyakinan yang teguh dari bangsa itu sendiri. bila ketiga persyaratan tersebut sulit terpenuhi, maka tanggalkan persyaratan yang pertama yakni tentara yang kuat. suatu bangsa bisa tetap jaya meskipun tidak di dukung oleh tentara yang kuat. selama kebutuhan pokok masyarakat masih bisa di penuhi dan bangsa tersebut masih tetap mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap masa depan bangsanya untuk maju . Bila kedua persyaratan tersebut tetap sulit untuk di penuhi maka yang terpenting adalah bahwa bangsa tersebut mesti tetap memiliki kepercayaan diri / keyakinan yang kuat, meskipun kebutuhan pokok masyarakat belum bisa di penuhi secara memadai .

            Ajaran kon fu tse yang kemudian dituangkan dalam bentuk etika konfusius ini sampai sekarang tetap di jadikan sebagai pedoman hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat oleh bangsa-bangsa asia timur seperti china, jepang dan korea. dan terbukti sukses dalam pembangunan ekonomi jepang pasca perang dunia kedua . meskipun tentara jepang menyerah tanpa syarat kepada pasukan sekutu karena serangan bom atom di hirosima dan Nagasaki , bangsa ini ternyata tetap bisa bangkit menjadi kekuatan ekonomi raksasa dan bisa mensejajarkan diri dengan   dengan Negara-negara maju seperti eropa barat dan amerika.

            Apa kunci utama kebangkitan ekonomi bangsa jepang ? selain kepercayaan yang kuat, faktor-faktor penting yang bisa menjelaskan masalah ini adalah faktor agama atau nilai – nilai Takugawa yang pada dasarnya berintikan pada beberapa ajaran pokok yakni : semangat untuk menuntut ilmu, bekerja keras, mengembangkan diri dalam iklim persaingan dan mengembangkan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. seminggu setelah kota hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh pasukan sekutu, kaisar hirohito keluar dari istana dan bertanya kepada rakyatnya “ masih berapa banyak guru yang hidup “ ? pertanyaan sang kaisar ini mempunyai makna bahwa selama guru sebagai penebar ilmu dan pencerdas kehidupan bangsa masih banyak yang hidup , maka bangsa jepang tetap optimis akan mampu bangkit kembali dari keterpurukannya menjadi bangsa yang besar dan berperadaban maju.

            Bila bangsa jepang bisa bangkit setelah terpuruk, lalu bagaimana dengan kita sebagai bangsa Indonesia yang sedang terpuruk. dan salah satu permasalahan utama yang di hadapi bangsa Indonesia dan umat islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini pada saat ini adalah kemiskinan. Bank dunia mencatat antara 2008 sampai 2009, kemiskinan di Indonesia mencapai 90 juta bahkan nyaris 100 juta jiwa. Bila data itu akurat, berarti lebih dari 40 persen penghuni negeri ini masih hidup dalam kemiskinan. Dengan hitungan matematika sederhana bisa dikatakan 4 dari 10 orang yang ada di Indonesia berpenghasilan tidak lebih dari US$ 2 atau uang yang mereka dapatkan dalam sehari tak lebih dari Rp 20.000,- saja.

               Data ini sangat memprihatinkan kita sebagai bangsa Indonesia, Perlu kerja keras ekstra dan kesungguhan dari pemimpin Negara dan kabinetnya untuk memperkecil angka-angka kemiskinan tersebut .

             Kita sebagai muslim dan penghuni mayoritas negeri ini juga harus mampu membangun kembali kepecayaan diri sebagai muslim untuk bangkit dan terus maju dengan berlandaskan keimanan yang kuat, karena masa depan umat islam dan peradabannya akan sangat tergantung kepada sejauh mana kita mampu membangun kepercayaan diri yang kuat dengan keimanan yang kokoh dalam membawa umat islam untuk maju dan berkembang dalam seluruh aspek kehidupan.
 
            Kemajuan ekonomi merupakan syarat mutlak kemajuan dan kesejahteraan  suatu bangsa  disamping jaminan keamanan sebagaimana penjelasan Allah dalam surat Al-Quraisy ayat 4 . dua hal yang disebut terakhir dalam surat ini, yaitu kesejahteraan yang dicapai dengan tersedianya pangan ( Kemajuan ekonomi ) serta jaminan stabilitas keamanan merupakan dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan masyarakat, keduanya saling berkaitan. Pertumbuhan ekonomi melahirkan stabilitas keamanan dan stabilitas keamanan memicu pertumbuhan ekonomi. Demikian juga sebaliknya kerawanan pangan menimbulkan gangguan keamanan dan gangguan keamanan menimbulkan kerawanan pangan.

      

Haji ; antara ibadah ritual dan status social

Abuya KH Muhtadi (kanan), Habib Ahmad bin Alwi Al-A'thos
Setelah bulan syawwal, ummat islam kembali memasuki suatu babak baru, pada bulan dzulhijah atau yang lazim di sebut bulan haji, pada bulan tersebut ummat islam yang mendapat panggilan Swt dari  berbagai belahan dunia berkumpul untuk melaksanakan ibadah haji.
Ibadah haji dapat dikatakan adalah ibadah yang sangat mewah bagi masyarakat secara umum, karena ibadah tersebut tidak dapat dilaksanakan di lain tempat kecuali di Tanah suci mekkah ( Saudi Arabia ) berbeda dengan ibadah lainnya seperti sholat dan puasa yang relative mudah dilaksanakan dimanapun, dengan realitas tersebut, maka dapat kita  fahami ibadah haji adalah suatu ibadah yang sangat mahal dan eksklusif, oleh karena itu kewajiban haji hanya ditekankan pada umat islam yang memiliki istitho’ah ( kemampuan & kesanggupan ) melaksanakan perjalanan ke baitullah makkah, karena memang perjalanan ke makkah memerlukan biaya yang tidak murah disamping kesanggupan fisik serta aman dalam perjalannnya sebagaimana firman Allah dalam surat ali imran ayat 97 :
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup melakukan perjalanan ke baitullah , siapa saja yang mengingkari ( kewajiban haji ) maka sesungguhnya Allah maha kaya ( tidak memerlukan sesuatu ) dari semesta alam .  

Ibadah haji merupakan ibadah penyempurnaan islam seorang muslim sehingga posisinyapun dalam rukun islam berada pada urutan terakhir setelah syahadat, sholat, zakat dan puasa. oleh karenanya tidaklah mengherankan kalau banyak ummat islam yang merindukan untuk bisa menunaikan ibadah haji tersebut, meski pada dasarnya tidaklah berdosa orang yang tidak melaksanakan ibadah haji karena tidak memiliki istitho’ah (kemampuan). yang terpenting “ haji “ tetap menjadi suatu cita–cita seorang muslim sepanjang  hayatnya. namun siapapun tidak bisa menduga, kalau memang sudah panggilan Allah bisa jadi seseorang yang tidak memilki istitho’ah tetap bisa melaksanakan haji, maka sering kita kenal ada istilah Haji kosasih ( haji ongkos dikasih ) Haji Abidin ( haji atas biaya dinas ), Haji suryanah ( haji gusuran tanah ), Haji karta ( haji karena mertua ) dan Haji kardinah ( haji karena undian berhadiah ) . 
Mengingat taklif haji  hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki istitho’ah saja. jika kita menggunakan rasio perbandingan, maka secara logika mayoritas umat islam di semua penjuru bumi lebih banyak yang tidak memiliki istitho’ah di bandingkan yang memiliki istitho’ah dengan kata lain umat islam yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji lebih banyak dibandingkan yang mampu dan secara tidak langsung hal ini memberikan imbas social terhadap orang yang  telah melakukan ibadah haji dalam bentuk kenaikan status social dalam lingkungan masyarakatnya dan ia berhak menyandang  predikat haji dan menambahkan title di depan namanya dengan ( H ) tidak seperti orang yang telah melakukan ibadah-ibadah lainnya seperti  puasa, zakat dan sholat. Dan oleh sebab itu ibadah haji yang eksklusif dan  prestisius ini sangat rentan dengan penyelewengan niat ibadah dari yang semestinya, misalnya  motivasi bahwa dengan berhaji prestisenye akan meningkat dan status sosialnya akan naik di mata masyarakat. dan sesuai dengan tengara ini Syekh Muhammad Abduh dalam kitabnya Al-A’mal jilid IV Menyatakan : Dan diantara ummat itu ada yang berhaji dengan maksud supaya di depan namanya ditambah sebutan “ haji ” atau supaya kedatangannya nanti disambut dengan penuh hormat. Dan hal ini merupakan model riya yang buruk     

 Dan saking prestisiusnya ibadah ini maka Syekh yusuf qordhowi dalam kitabnya fi fiqh al-uluwiyyat menjelaskan banyak orang yang melakukan ibadah haji berkali –kali tanpa menyadari bahwa bahwa ibadah haji adalah kewajiban sekali seumur hidup dan selebihnya adalah sunnah, padahal disampingnya ada banyak umat islam yang kelaparan karena tidak mampu membeli sesuap nasi, banyak anak yatim yang tidak bisa mengenyam bangku pendidikan karena tidak punya biaya dan tak terhitung jumlahnya orang sakit dengan menahan sakitnya karena tidak mampu berobat sebab tak punya biaya.  mereka telah melupakan sesuatu yang fardhu dan mengutamakan sesuatu yang bersifat sunnah ( uluwiyyatul  as-sunan a’lal fardhi) .
 Pada dasarnya kepentingan naik haji ke dua kali dst adalah qashir ( terbatas ) dan membantu sesama muslim yang sangat membutuhkan adalah muta’addi ( meluas ) dan dalam qowaid fiqh ada istilah al-muta’addi afdolu minal qashir ( kepentingan yang meluas manfaatnya kepada orang lain lebih utama di bandingkan kepentingan yang terbatas hanya kepada diri sendiri ). Dengan demikian, mari kita doakan agar saudara-saudara kita yang  melaksanakan ibadah haji ,semoga diberikan haji yang mabrur  dan diberikan taufiq dan hidayah dari Allah agar bisa senantiasa meluruskan niatnya .
Rasul bersabda :
 
اَلْحَجُّ اْلَمبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَآءٌ ِإلا اْلجَنَّة
haji mabrur itu tiada balasan baginya kecuali surga ) HR.Bukhari dan Muslim.
Wallahu A’lam.

Kesehatan Dalam Pandangan Islam ( Makna & Nilai Kesehatan )


Islam memandang, bahwa kesehatan merupakan nikmat dan karunia Allah swt yang wajib disyukuri. Disamping itu sehat juga adalah obsesi setiap insan berakal; tak seorang manusia pun yang tidak ingin selalu sehat, agar tugas dan kewajiban hidup dapat dilaksanakannya dengan baik.
Meskipun  sehat merupakan kebutuhan fitrah manusia dan nikmat Allah, tetapi banyak manusia yang mengabaikan dan melupakan nikmat sehat ini, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah saw :
“Ada dua nikmat yang banyak dilupakan manusia, yaitu nikmat sehat dan peluang kesempatan” (HR Imam Bukhari).
Karenanya kesehatan salah satu perkara yang diminta pertanggungjawabannya di hadapan pengadilan Allah swt, seperti dalam hadits Nabi : “Nikmat yang pertama ditanyakan kepada setiap hamba pada hari Kiamat dengan pertanyaan “Tidakkah telah Kami sehatkan badanmu dan telah Kami segarkan (kenyangkan) kamu dengan air yang sejuk” (HR Imam Tirmizi).
Maka sebahagian ulama tafsir mengartikan kenikmatan dalam firman Allah “(Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu kenikmatan)” surat al-Takatsur: 8, yaitu nikmat sehat.
Diantara perhatian Islam kepada kesehatan, adalah perintah dan anjuran menjaga kebersihan. Demikian dapat dipahami, jika pembahasan ulama fiqh dalam khazanah intelektual mereka selalu diawali dengan “Bab Thaharah” Bahasan mengenai kesucian atau kebersihan, bersih dari hadats besar dengan mandi junub, atau hadats kecil dengan berwudhu, bersih dari najis dan kotoran.
Demikian juga selain wudhu, syarat sah shalat adalah bersih pakaian, tempat dari segala najis dan kotoran yang menodai.
Allah juga berfirman : “Dan pakaianmu bersihkanlah” (QS al-Mudatsir: 4). “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri (QS al-Baqarah: 222). “Di dalamnya (mesjid) terdapat orang-orang yang bertaubat dan membersihkan diri, sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang selalu membersihkan diri” (QS at-Taubah: 108).

Demikian Rasulullah mengarahkan di banyak hadits-hadits beliau, antara lain :

·       Kebersihan adalah sebagian daripada iman” (HR. Imam Muslim).
·       Kewajiban setiap muslim adalah menggunakan satu hari dari tujuh hari untuk mencuci rambut dan badannya” (HR. muttafaq ‘alaihi).
·       Barangsiapa yang memiliki rambut, hendaknya ia merawatnya dengan baik” (HR. Abu Daud).
·       Sesungguhnya Allah Maha Indah mencintai keindahan, Allah Maha Baik menyukai kebaikan, Allah Maha Bersih mencintai kebersihan. Karena itu bersihkanlah teras rumah kalian dan janganlah kalian seperti orang-orang Yahudi” (HR.Tirmizi).
             
Bentuk memelihara kesehatan yang lain adalah perhatian kepada olah raga yang cukup. Shahabat Salamat bin al-Akwa’ bercerita: “Ketika kami tengah berjalan, ada seorang lelaki dari Anshar yang tidak pernah terkalahkan dalam pertandingan berjalan. Lalu dia bertanya: “Adakah orang yang dapat menandingiku dalam lomba jalan ke Madinah Adakah ada orang yang mau berlomba ? Kemudian saya jawab: “Apakah engkau sudah menghargai orang yang mulia dan tidak takut pada orang yang tinggi derajatnya ? Dia menjawab: “Tidak, kecuali yang menantang saya itu adalah Rasulullah saw. Salamah berkata lagi: “Saya berkata “wahai Rasulullah, demi bapakku, engkau dan ibuku! Izinkanlah saya, saya yang akan berlomba melawan laki-laki itu. Rasulullah menjawab: “ Terserah kamu”. Salamah berkata: “ Kemudia aku yang memenangkan perlombaan jalan ke Madinah itu” (HR Imam Ahmad dan Imam Muslim)

Proses Medis, Menjaga Kesehatan Dan Takdir Allah.
Persepsi yang keliru tentang takdir mengakibatkan sikap anti usaha dan tidak semangat terhadap upaya-upaya produkti. Dalam hal kesehatan dan proses medis, ada yang beranggapan salah bahwa usaha itu bertentangan dengan takdir (ketentuan Allah).
Ketika ada seseorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang pengobatan, katanya: “Wahai Rasulullah, apakah obat-obatan, usaha menjaga kesehatan, tindakan preventif dari penyakit, merupakan penolakan terhadap takdir Allah ? Rasulullah saw menjawab: “ Semua itu adalah takdir Allah juga (HR ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim).
Tidak sekedar anjuran teoritis, Rasulullah saw pernah memanggil tabib (dokter) untuk mengobati Ubay bin Kaab. Rasulullah saw sendiri mendatangi seorang tabib saat sakit dan mengatakan:
Siapa di antara kalian yang paling pandai dalam ilmu pengobatan ? Salah seorang mereka berkata: Apakah ilmu pengobatan (kedokteran) ada manfaatnya wahai Rasulullah ? Rasulullah saw menjawab: ” Dzat yang menurunkan penyakit telah pula menurunkan obatnya” (HR. Imam Malik dalam kitab al-muwatha’).
“Setiap penyakit itu ada obatnya, apabila penyakit itu telah kena obat, ia akan sembuh dengan izin Allah swt” (HR Imam Muslim dan Ahmad).
 Karenanya Rasulullah saw di dalam banyak hadits mengajarkan umatnya berdo’a minta kesehatan, keselamatan; hal itu bukan merupakan perlawanan terhadap takdir ketentuan Allah swt. Antara lain :
Ya Allah Robb manusia, hilangkan mara bahaya, sembuhkanlah penyakaitku, Engkau adalah Dzat yang menyembuhkan. Tidak ada obat dapat menyembuhkan melainkan obatMu, ia adalah obat yang tidak meninggalkan penyakit.. “Ya Allah, sehatkan badanku, sehatkan telingaku, sehatkan, penglihatanku, jadikan semua itu pewaris hidupku”. Dan lain-lain.

“Banjir” , Bencana atau kesengajaan kita


Tak dapat dipungkiri lagi bahwa disetiap musim penghujan masyarakat di daerah sekitar Jakarta selalu khawatir dengan datangnya banjir dan seolah–olah banjir ini sudah menjadi tamu rutin yang selalu datang di setiap tahun, hal ini menunjukkan adanya kerusakan ekologis dan terganggunya keseimbangan lingkungan hidup di sekitar kita .
Pertanyaan kita, bagaimana islam memandang dan memberikan konstribusi terbaik dalam upaya menyelamatkan manusia dari kerusakan ekologis tersebut ?
 Hal pertama yang harus kita ketahui adalah bahwa jagat raya dan seluruh isi alam ini ( gunung, tanah, sungai, tanah ) adalah tanda kebesaran Allah ( ayat kauniah ) yang harus dipelihara dan dijaga oleh manusia . dan inilah fungsi manusia sebagai khalifah fil ardl , maka tugas khalifah adalah  untuk memakmurkan bumi dan menjaganya. Allah Swt berfirman dalam surat Al-hijr ayat 19-20 :

"Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuat menurut ukuran, dan kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan–keperluan hidup dan kami ( menciptakan pula ) makhluq-makhluq yang kamu sekali–sekali bukan pemberi rizki kepadanya ."

Ayat ini menyatakan kepada kita bahwa bumi dan seisinya adalah salah satu kenikmatan yang di berikan kepada manusia yang keberadaannnya harus kita syukuri dan kita pelihara kelestariannya.Dan oleh karena itu Allah Swt melarang kita untuk melakukan perusakan terhadap bumi ini dengan mencemari, menggunduli hutan dan  melakukan eksploitasi tanpa mempertimbangkan akibat ekologisnya. Sebagaimana firman-Nya :

"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah ( Allah ) memperbaikinya , berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap, sesungguhnya Allah sungguh dekat dengan orang-orang yang berbuat baik ( QS Al-A’raf : 56 )"  

Peringatan Allah ini harus kita respons dengan langkah-langkah antisipatif agar alam ini bisa di lestarikan dengan baik demi kenyamanan dan kebahagiaan hidup kita bersama dan kita sebagai hamba Allah yang beriman harus mengakui bahwa musibah banjir yang sering melanda masyarakat kita merupakan respons alam yang diakibatkan karena terganggunya keseimbangan alam. dan Allah telah menyatakannya dalam surat Ar-rum ayat 41 : ”Telah nampak kerusakan di daratan dan lautan di sebabkan karena perbuatan tangan manusia , supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka , agar mereka kembali ke jalan yang benar .  
Untuk menghambat laju murka alam dan untuk mendapatkan ampunan dari Allah, maka kita perlu mengamalkan nilai-nilai kesalehan yang merupakan potensi positif dan fitrah manusia sebagai khalifah di muka bumi. Hentikan ! eksploitasi yang berdampak buruk terhadap pelestarian lingkungan, hijaukan kembali lahan – lahan yang gundul dengan jenis-jenis tumbuhan asli setempat, karena jenis tumbuhan local sudah teruji memiliki kemampuan meresapkan air hujan dan menyimpannya di dalam tanah, hentikan buang sampah ke sungai agar ia tidak menjadi dangkal dan   tersumbat di musim penghujan yang bisa berakibat banjir .
Dan sebagai langkah pencegahan terhadap perusakan alam dan lingkungan, sudah seharusnya kita mendayagunakan praktek keagamaan yang ( insaniyyah oriented ) Yang selama  ini sering kita abaikan. maka wajar, kita selama ini sering merasa berdosa apabila tidak puasa atau shalat, namun merasa tidak berdosa apabila merusak lingkungan, membuang sampah sembarangan apalagi ke sungai. Syekh nawawi dalam kitabnya syarh qomi’ut tughyan menyatakan : bahwa menyingkirkan kotoran di jalan termasuk tanda orang yang beriman, artinya membuang sampah di jalan sehingga mengganggu orang adalah adalah perbuatan dosa. 
Di samping upaya di atas tadi kitapun harus menyadari bahwa pemeliharaan lingkungan termasuk daripada upaya mewujudkan kemaslahatan manusia, oleh sebab itu DR. Yusuf Qordhowi dalam kitabnya Ri’ayatul bi’ah fi syari’atil islamiyyah menjelaskan bahwa pemeliharaan lingkungan hidup setara dengan menjaga maqosidus syari’ah .dan tujuan maqosidus syariah adalah untuk menegakkan kemaslahatan agama dan dunia, dimana bila prinsip – prinsip itu diabaikan, maka kemaslahatan dunia tidak akan tegak berdiri, sehingga berakibat pada kerusakan dan hilangnya kenikmatan perikehidupan manusia, kita bisa membayangkan hal ini ketika dilanda banjir. Urusan shalat, ekonomi, pendidikan, transportasi dll menjadi terbengkalai. untuk mengembalikan seperti semula butuh waktu bermingu-minggu.
Melihat kondisi lingkungan hidup dan alam sekitar yang sudah mengancam kehidupan manusia ini maka  kita di tuntut berperan aktif untuk memelihara lingkungan dan optimalisasi peran ulama, tokoh masyarakat dan pemerintah daerah dalam proses soasialisasi pentingnya pelestarian lingkungan hidup. Dan khususnya bagi para aktivis pelestarian lingkungan dan pecinta alam harus lebih tertuntut sehingga dapat mempunyai program strategis  yang berwujud nyata dalam bentuk workshop, diskusi, sosialisasi, sarasehan, mencetak buletin dalam memberikan wawasan dan pemahaman tentang tata cara perawatan lingkungan dan pentingnya pelestarian terhadap alam sekitar dan lingkungan hidup agar banjir sekali – kali tidak akan pernah menyapa daerah kita .